welcome to my blog !

 

About Me

Fadhli Rafiqi (lahir di kota payakumbuh), kerap dipanggil Fadhli, Fad, Li, TBoy, Master, Boy atau TB. Fadhli Rafiqi lahir dari pasangan Fidel Andrianto (ayah) dan Rahmi Darwati (ibu)....more

 

Latest News

 

Jarak Antara Remaja dengan HIV/AIDS dan Narkoba

Filed Under (Artikel Lomba Blog) by Ph4][)HL1 R4Ph1Q1 on 06-09-2008

Tagged Under : , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Masih teringat jelas dalam benak pikiran kita, pada 1 Desember 2007 genap dua puluh tahun dunia mrnyoroti tentang bahaya HIV/AIDS yang mengancam jiwa manusia. Ibarat sebuah penyakit kanker yang siap memberangus setiap nyawa yang ditemuinya.

Setiap tahunnya kita dibuat terperengah dengan semakin meningkatnya orang-orang dengan HIV/AIDS dan pecandu narkoba. HIV/AIDS dan narkoba bukan lagi menjadi enemik ganada yang

 

mengancam kehidupan gemerlap, bebas dan para penjaja seks namun sudah mulai masuk kedalam kehdupan rumah tangga dan anak-anak.

 

Keunikan Remaja

 

Berbicara tentang remaja memang selalu menarik perhatian semua kalangan. Tidak hanya remaja merupakan sosok uik ketika menjalani fase erubahan fisik namun juga dari perubahan non fisik yang penuh gejolak, potensi dan kedinamisan. Remaja laki-laki dengan mengalami perubahan suara, adanya jakun, atau mulai tumbuhnya—maaf—payudara pada

 

perempuan menunjukan adanya perubahan fisik.

 

Sedangkan perubahan non fisik yakni meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter yangf sering ditemui dari berbagai gejala perilakunya. Fase sepeti ini dikenal oleh para pakar psikologi dengan proses pencaian jati diri dan pemahaman diri, penjajakan peranan dan kedudukannya dalam lingkungan.

 

Dalam peroses mencari jati diri ini, remaja memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Bernadib meliputi: “Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan mampu mengatasi masalah seniri tanpa campur tangan orang lain.”

 

Ada suatu dorongan yang kuat agar terbbas dari ketergantungan kepada orang tua, keinginan dihargai sebagai orang dewasa dan mempunyai hak terhadap dirinya dalam mengambil satu keputusan serta bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat.

 

Masa remaja adalah masa pembelajaran. Meskipun remaja mendapat kebebasan dalam mengembangkan potensi diri namun tetap saja memerukan bekal, bimbingan dan pengarahan orang tua, pendidik serta dukungan dari lingkungan yang kondusif. Membekali mereka dengan pemahaman konsep hidup yang benar sangat diperlukan dalam proses pencarian jatidiri.

 

Dengan bimbingan membentuk remaja merasa perccaya diri karena secara kejiwaan remaja masih labil mudah kebingungn ketika menghadapi kesulitan dan kegagalan menjalani hidupnya.

 

Mengapa seks bebas, narkoba dan HIV/AIDS begitu dekat dengan remaja? Menurut dokter Boyke Dian Nugroho, SpOG MARS jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia mencapai 500-600 ribu orang dimana 40% diantaranya remaja berusia 10-15 tahun. Ada dua penyebab utama terjadinya percepatan menularnya HIV/AIDS yaitu perilaku seks bebas (30%) dan peredaran

 

narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik (50%).

 

Dengan demikian Indonesia memungkinkan jadi episentrum HIV/AIDS. Menyimak perkembangan

 

dan peredaran nakotika, psikotropika dan bahan aktif lainnya, Badan Narkoika Nasional mengataka tahun 2003 hampir 10 juta telah menjadi korban barang haram ini. Mengapa dampak terbesar terjadi pada remaja?

 

Semua ini tidak lepaas dari secara kejiwaan remaja memang mengalam fase ketidak setabilan emosional. Sifat agresifitas yang tinggi, seringnya mengambil tindakan cepat tanpa mempertimbangkan secara matang ikut menunjang akan mudahnya remaja terjerumus pada lingkungan yang negatif. Ketik remaja mengalami realitas hidup sering mengalami

 

kebingungan akbat lemahnya prinsip hidup dan keterbatasan bekal yang dimiliki. Kondisi linkungan keluarga dan masyarakatyang maladatif membuat remaja lebih aman bersama teman-temannya dan tinggal di luar rumah dari pada bercengkrama bersama keluarga di rumah.

 

Lingkungan negaatif inilah yang rentan membawa remaja ke dalam pergaulan bebas,

 

seks bebas, narkoba dan tertularnya enyakit HIV/AIDS. Remaja aset bangsa dan agama

 

Persoalan remaja saat ini sudah masuk dalam tataran kritis dan sulit dikendalikan. Hal ini menjadikan banyak kalangan menjadi cemas dan berupaya mencarikan solusi-solusinya. Bagaimanapun juga remaja adalah aset negara, agama dan penerus perjuangan generasi sebelumnya.

 

Secara kejiwaan remaja mempunyai energi yang berpotensi menghasilkan kecemerlangan berfikir dan meemukan ide dan inovasi baru yang penuh kedinamisan. Namun potensi ini harus diimbangi dengan kejelasan arah dan tujuan hidupnya. Ketika remaja kosong dengan tujuan hidupnya yang benar, pemanfaatan potensi ini akan beralih kepada keadaan yang justru merugikan bahkan menghancurkan hidupnya.

 

Sebagaimana pernyatan yang di keluarka oleh presiden RI bahwa endemik gan-da narkoba dan HIV/AIDS telah mencapai keadan yang mengkhawatirkan ekistensi negara. Beliau menyaranka langkah antisipatif dengan 3T-nya: tingkatkan kepemimpinan dan upaya penceghan, tingkatkan layanan kesehatan komprehensif, propesional dan manusiawi. Dan tingkatkan sumber dana dan daya.

 

Banyak pula pernyataan solutif yang diberikan para praktisi kesehatan, psikologi bahkan pemerhati remaja tentang cara terbaik bagaimana mencegah maraknya kasus endemik ganda yang merusak generasi bangsa. Pergaulan bebas di alangan remaja kini sudah mewabah yang setiap saat melahirkan

 

berbagai penyakit fisik dan psikososial. Sebagian praktisi mengatakan remaja putri merupakan pihak yang sangat dikorbankan akibat pergaulan bebas ini. Untuk itu perlu memberikan pendidikan tentang kesehatan alat reproduksinya sehingga remaja memahami tentang dirinya, keunikan organ reproduksinya.

 

Dengan demikian remaja dapat memberikan keputusan tepat dan bertanggung jawab terhadap penggunaan organ reproduksinya.Selain itu dengan dalih kedaruratan, diambil langkah-langkah

 

penyelesaian seperti ATM kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS, anjuran penggunan jarum steril saat mengkonsumsi narkoba, dan kemudahan sarana untuk melakukan aborsi aman yang sebenarnya justru akan memfasilitasi semakin berkembangnya seks bebas tentu tak ketinggalan juga dampaknya.

 

Sekali lagi kita selalu dihadapkan dengan kenyataan bahwa kenaikan kasus dari dampak pergauln bebas yang terjadi di masyarakat terutama remaja semakin tidak terkendali. Ibarat

 

fenomena gunung es dampak pergaulan bebas dan seks bebas yaitu meningkatnya pemakai narkoba, berkembangnya penyakit menular seksual terutama HIV/AIDS yang akan merusak aset termahal bangsa ini.

 

Lalu bagaimana Islam memberi solusi? Islam hadir sebagai pengatur dan pmecah segala persoalan manusia termasuk di dalamnya bagaimana menyiapkan generasi penerus unggul,

siap menjadi penerus generasi mendatang. Manusia adalah bagian dari berbagai macam makhluk Allah yang mendapatkan derajat atau kelebihan yang berupa kemampuan untuk menganalisa segala macam persoalan yang dihadapinya. Namun demikian akal tidak akan pernah mampu menemukn aturan terbaik yang dapat mengantarkan manusia pada tujuan hidup yang diinginkan.

 

Manusia akan terjebak dengan memenuhi segala keinginan hawa nafsunya ketika dibiarkan mengatur hidupnya sendiri tanpa keterlibatan Sang encipta (Al-choliq). Oleh karena itulah Islam hadir sebagai agama yang berpengaruh dalam segala aspek kehidupan manusia.

 

Islam menanamkan sebuah keyakinan dengan mendudukkan Allah sebagai pencipta untuk menentukan/mengatur kehidupan. Manusia akan kembali kepada-Nya dengan membawa beban tanggung jawab atas segala perbuatan yang telah menjadi pilihannyaselama masa hidupnya di dunia sebagai penentu kehidupannya di akhirat.

 

Dari sini, maka umat Islam akan berusaha untuk berjalan sesuai dengan aturan Allah dan tidak keluar dari koridor Islam. Umat islam melakukan suatu perbutan karena meyakini perbuatan itu diwajibkan atau dibolehkan dalam Islam dan meninggalkan suatu perbuatan karena dilarang oleh Allah.

 

Seorang muslimakan berlomba memperbanyak pahala dan mendapat keridhoan-Nya. Perinsip seperti inilah yang semarusnya tertanam di dalam jiwa setiap muslimin termasuk para remaja kita. Hal ini berbeda dengan pola kehidupan sekuler yang digunakan oleh masyarakat barat. Gaya hidup sekuler adalah gaya hidup yang mengesampingkan aspek tuhan sebagai pengatur hidup manusia. Agama menjadi urusan pribadi seseorang dengan tuhannya dan terpisah dari

 

kehidupan duniawi. Penghilangan pengaruh agama dalam kehidupan duniawi inilah yang mengantarkan masyarakat barat membuat aturan hidup sendiri sesui dengan keinginan hawa nafsunya. Berawal dari pada keinginan manusia, berkembanglah empat kebebasan yaitu kebebasan beragama (berkeyakinan), berpendapat, berkepemilikan dn bertingkah laku. Agar

 

dalam melaksanakan kebebasan ini tidak melanggar hak orang lain maka lahirlah slogan kebebasan, tidak boleh melanggar hak asasi manusia (HAM).

 

Setiap orang tua di kehidupan sekuler harus memberikan jaminan untuk tidak melanggar hak asasi anak sebagai manusia dalam menerapkan pendidiakn erhadap anaknya. Remaja mempunyai kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya tanpa harus dibayangi oleh pengarahan dari orang tua.

 

Terbatasnya peran oreng tua dan kebebawsan tanpa kendali ini menyebabkan berkembangnya kebebasan berfikir remaja untuk merancanakan hidupnya. Remaja bebas bertindak (permisif) dalam mencari langkah solutif permasalahannya, terjebak engan kehidupan hedonistik

 

(kesenangan) dan pergauln bebas yang mengantarkannya kepada berperilaku seks bebas. Gaya hidup remaja barat seperti inilah kini mulai diikuti oleh remaja muslim.

 

Dengan dalih kebebasan remaja kita telah mengalami pergeseran ke arah perilaku liar tak terkendali. Parahnya gaya hidup sekuler itu semakin populer di mata remaja an sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri.

 

Sekarang, bagaimana orang tua, terutama para ibu berperan sebagai ibu yang terbaik bagi pendidikan yang benar sekaligus membari keteladanan berdasarkan keislaman. Dengan pendidikan islam pada usia dini, seperti memasukkannya kedalam pondok pesantren yang terjaga dari gemerlap dunia luar dengan pendidikan rohani dan penjelasan yang mengarahkan

 

dan mencerahkannya akan pemahaman tentang dinul Islam sebagai acuan hidupnya, maka di usia remaja dan baligh anak-anak mampu enjadi sosok muslim yang telah menemukan jati dirinya, selalu memegang prinsip dan tujuan islami menuju insan yang taqwa.

 

via radarbanjarmasin [ Fahri ]

Pasang Iklan Disini

Related Posts:

Comments:

5 Responses to “Jarak Antara Remaja dengan HIV/AIDS dan Narkoba”


  1. kasus HIV/AIDS memang menyedihkan


  2. hey inikan artikel gue… gue juga ikutin lomba blog remaja… lalu kamu dapat di radarbanjar masi setelah kemarin aku mengirim via e-mail ke sana…


  3. sorry Fahri, kan ga tau.. tuh dah dimasukin link ke artikel kamu… :D


  4. HIV/AIDS sudah menjadi salah satu virus mematikan di Indonesia….tp Indonesia masih belum menggeliat utk menanganinya….


  5. maklum lah mas… secara indo cuma nunggu dari orang luar…

Leave a Reply

Subscribe to Rss Feed : Rss